“Ada yang atas nama rakyat, menindas rakyat. Ada yang atas nama manusia, memangsa manusia. Ada yang atas nama keadilan meruntuhkan keadilan,”

Cuplikan dari puisi Kiai Ahmad Musthofa Bisri yang diambil dari puisi yang berjudul “Sajak Atas Nama” sangat menohok. Bagaimana tidak, kalimat-kalimat tersebut seolah menelanjangi kerakusan para pejabat. Mereka  yang mengaku atas nama wakil rakyat justru merampas hak-hak rakyat dengan praktik korupsi yang semakin hari semakin mengganas seperti halnya kanker yang sudah kronis.

Korupsi tersebut mengakibatkan rakyat Indonesia yang seharusnya makmur dan sejahtera justru menjadi negara kelas menengah papan bawah. Indoenesia yang diibaratkan kepingan surga itu digerogoti oleh tikus-tikus rakus yang kian hari semakin menjadi-jadi.

Diakui atau tidak, korupsi merupak kejahatan yang luar biasa. Sayangnya, para elite politik penyelenggara negara tidak melakukan langkah kongkrit. Justru, penyelenggara negara nampak kurang peduli dengan kualitas penyelenggaraan negara. Celah-celah korupsi masih dibiarkan begitu saja dari sistem yang memberi peluang bagi kebocoran dan pemborosan uang negara.

Di alam budaya politik yang elitis dan feodal ini, politisi korup lebih merasa malu karena ketahuan. Mereka tiada merasa sesal karena sudah mengkhianati panggilan luhur politik. Politisi korup yang suka sekali mengatasnamakan dirinya mewakli rakyat itu tidak merasa gusar karena inkompetensinya sebagai penyelenggara negara. Bahkan, ketika terjerat operasi tangkap tangan dianggap sedang sial.

Bagi mereka, para politisi korup, korupsi adalah hal yang wajar. Pasalnya, korupsi adalah salah satu cara untuk mengembalikan modal kampanye yang terlampau mahal. Padahal, alasan cost politik yang tinggi hanyalah cara bagi para politisi korup untuk menutupi kerakusannya.

Bahkan ada yang mengatakan, Praktik korupsi di kalangan elite seperti sudah menjadi budaya. Dalam artian, tindak korupsi sudah seperti halnya makan di restoran dan mengendarai mobil. Menyalahgunakan untuk keuntungan pribadi dan kelompok sudah seperti suatu hal yang wajar terjadi.

Tentu kita akan bertanya-tanya, dalam nasionalisme apakah mereka ini? Anak-anak sekolah diharuskan digembleng nasionalisme, sementara praktik para elite justru a-nasionalis. Kalau guru kencing berdiri, anak akan kencing berlari. Tidak wajar apabila murid disuruh kencing dengan sopan, sementara guru-gurunya kencing berteriak sambil berlari.

Namun, itulah yang dipamerkan mereka yang menyebut dirinya mewakili rakyat. Mereka ini  menyebutnya sebagai kewajaran, baik-baik saja, benar dan seharusnya. Alasan mereka adalah kebebasan, hak individu, dan bunyi hukum.

Ah, menggemaskan bukan? Mereka menggaung-gaungkan diri sebagai wakil dari rakyat justru hampa dengan amanat penderitaan rakyat. Lalu apakah kita diam saja dengan segala bentuk penggerogotann dan pembusukan yang selama ini terjadi di negeri ini?

Berangkat dari kegelisahan tersebut Qimo Japara, memvisualisasikannya ke dalam sebuah illustrasi yang menggambarkan beberapa ikon yang digambar dengan manual dengan goresan yang detail dan estetik, Gerombolan tikus yang berada dalam tempurung tengkorak dan sedang berpesta dan saling tuding dengan gaya sesosok pahlawan dengan disisi lainnya terlihat uang yang bertumpukan, dengan background terlihat gedung DPR dan gedung gedung yang menjulang, dan pada bagian atasnya terdapat tulisan Indonesia yang terlihat seperti teksture keju yang sudah di gerogoti oleh tikus tikus rakus sedang menggerogoti Negara tercinta ini.

Dengan kerakusannya, tikus-tikus tersebut menggerogoti Indonesia yang sesungguhnya merupakan negara yang mempunyai kekayaan yang melimpah, loh jinawe. Menariknya, perusakan dan penggerogotan kekayaan tersebut, diatasnamakan sebagai bentuk  dari mewakili rakyatnya. Dalam kaos tersebut tergambar bangsa Indonesia yang mulai nampak rusak tak beraturan lantaran sudah dikuasai oleh tikus-tikus rakus

Desain yang bernuansa kritikan untuk para wakil rakyat Indonesia ini dioutputkan dalam media kaos QimoJapara dengan seri “atas nama wakil rakyat” dan di sablon dengan tehnik Discharge yang nyaman dipakai. Pada bagian belakang terdapat kalimat “Atas Nama Wakil Rakyat”.

Souvenir-Kaos-Distro-Jepara-QimoJapara-Indonesia

Karya ini kami komunikasikan untuk  Negara Tercinta Republik Indonesia.
Selamat mengapresiasi karya QimoJapara serie Atas Nama Wakil Rakyat yang bisa dilihat disini.

Silahkan langsung datang di toko oleh-oleh khas Jepara ini yang berada di :
offcial store:  QimoJapara di Jl. KH. Moliki No.02, Pengkol VII, Pengkol, Kec. Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah 59415.

Untuk melihat koleksi desain kaos lainnya bisa di :
Instagram : qimojapara
twitter        : qimojapara
Facebook  : qimojapara