Tahukah Anda, dahulu Kota Japara mempunyai stasiun kereta api. Stasiun tersebut dibangun oleh Samarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) pada tahun 1887  guna mengangkut gula dari pabrik yang berada di Pecangaan. Dan memang kala itu, di Mayong terdapat delapan kebun tebun yang masih aktif beroperasi.

Sejarah-stasiun-Majong-Japara

Semasa R. A Kartini masih hidup, stasiun ini merupakan satu-satunya stasiun yang membawa penumpang dari Japara ke Juwana ataupun ke Semarang. Bahkan dalam catatan Kartini, di Stasiun Mayong inilah Kartini dan ayahnya menyambut tamu-tamu yang tiba di Japara.

 “Betapa takutnya kami ketinggalan tram,” tulis Kartini dalam catatannya.

Ketika berada di dalam kereta, Kartini tidak diperkenankan untuk berpergian kemana-mana. Namun, saat itulah saat-saat yang sangat intens dan berkesan bagi Kartini. Kartini merasa benar-benar hidup lantaran bisa bertemu dengan banyak orang yang mempunyai latar belakang yang berbeda. Bahkan menurut catatan Rudolf mrazek dalam bukunya Engineers of Happy Land , ketika Kartini berada di stasiun maupun kereta hidupnya nampak begitu bahagia lantaran sering bertemu banyak orang yang membuatnya tersentuh. Tak hanya itu, di tempat tersebutlah Kartini sering mendapat kabar hingga gosip jalanan.

 “Di kereta […] aku mendekapkan tanganku ke hatiku […] aku mendengar banyak hal di atas kereta.”

“Sekarang kita terbang bersama badai melalui jalanan besi.”

“Bisakah aku melupakan perjalanan ilahi itu dengannya ke stasiun?”

Modernitas di awal abad 20 yang ditandai dengan munculnya kereta api membuat Kartini terinspirasi. Dalam surat yang ia tulis kepada salah satu temannya yang juga merupakan teman ayahnya, Dr. Anton di Jena Jerman, Kartini menulis tentang modernitas

”Mesin terbang akan digunakan, dan pada hari-hari keemasan salah satunya akan terlihat mengepakkan sayapnya di atas horison Jena yang biru membawa tamu-tamu dari jauh. Memang aku seharusnya dilahirkan sebagai seorang laki-laki.”

Sayangnya, stasiun yang sarat dengan sejarah (cagar budaya) itu sudah dijual pada tahun 2001. Dan kini stasiun tersebut menjadi sebuah ruang penerima tamu di MesaStila Hotels anda Resort di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Lalu, apa motif di balik penjualan itu? Mari kita bertanya kepada diri kita sendiri.

Padahal, sudah jelas disebutkan pada UU Cagar Budaya pasal 12 tentang kepemilikan dan penguasaan cagar budaya. Dijelaskan bahwa, pemerintah berkewajiban, menyimpan, dan memelihara serta melindungi. Selain itu, juga dipertegas dengan pasal 22 tentang kompensasi dan intensif. Pada pasal tersebut, dijelaskan bahwa, setiap orang yang memiliki atau menguasai cagar budaya, melakukan kewajiban, melindungi cagar budaya. Kompensasi hak ini berbentuk pengurangan PBB atau pajak penghasilan.

Proses Kreatif

Dari keprihatinan tersebut, dan untuk menginformasikan kepada khalayak umum.  QimoJapara dengan series Stasiun Mayong ini mengangkat isu tentang Stasiun Majong. Kaos ini dalam proses menggambarnya dilakukan secara manual. Adapun arsiran-arsiran pada gambar tersebut ditampakkan untuk lebih memperlihatkan volume desain hiruk pikuk stasiun Majong Japara supaya desain nampak bagus dan estetik. Pemilihan warna pada serie Stasiun Majong ini memilih satu warna dengan kaos berwarna hitam dan warna sablonan putih untuk memberi nuansa classic dan netral.

Untuk mengoutputkan desain yang detail. Qimo Japara menyablonnya dengan teknik sablon discharge. Teknik ini selain membuat gambar lebih detail, juga awet dan tahan lama.

Souvenir-cinderamata-kaos-Rumah-Kartini-qimoJapara-mayong-Rumah-Kartini-Jepara-Indonesia

Adapun kain kaos yang kami pilih adalah kain jenis cotton combad 30s. Kain ini dikenal awet dan nyaman untuk dipakai. Sebagai bentuk rasa cinta kepada kota ukir ini, di bagian belakang kaos juga ditambahi tulisan “Aku Cinta Japara”

Souvenir-cinderamata-kaos-Rumah-Kartini-qimoJapara-mayong-Rumah-Kartini-Jepara-Indonesia
Bagaiamana, Apakah Anda tertarik untuk mengoleksi Karya Qimo Japara dengan konsep lokal yang menceritakan tentang sejarah Japara?